========================
"Aku mengasihi TUHAN, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku. Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya."

Pernah suatu hari saya berpikir, mengapa Tuhan memberikan hanya satu mulut, tapi dua telinga. Yang saya dapatkan sebagai jawaban adalah, karena orang cenderung ingin didengar ketimbang mendengar. Orang lebih tertarik untuk berbicara dan didengar, tapi tidak begitu tertarik untuk mendengarkan. Bayangkan jika ada dua mulut, apa jadinya dunia? Satu saja sudah sulit untuk dikendalikan, apalagi dua. Indera pendengar dipasang Tuhan di kiri dan kanan dan karena segala yang diciptakan Tuhan itu baik adanya, maka sepasang telinga ini pun harusnya kita pergunakan dengan efektif untuk tujuan-tujuan yang baik. Dalam keluarga, kampus, sekolah atau lingkungan kerja, tetap saja ada orang-orang yang butuh pertolongan, dan salah satunya yang mungkin paling sulit untuk diperoleh adalah kehadiran seorang pendengar yang baik. Seringkali kita bisa memberi pertolongan maksimal bukan dengan menyumbang saran, melainkan ketika kita mendengarkan berbagai keluhan mereka dengan sabar. Menjadi ayah yang baik bukan hanya berbicara mengenai pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dari anak-anaknya, tapi juga harus menyediakan cukup waktu bagi keluarganya. Menjadi pendengar yang baik dari apa yang Tuhan katakan, juga apa yang keluarga katakan. Mengapa? Karena Tuhan pun selalu dengan penuh kasih mendengarkan kita. Lihatlah ayat bacaan hari ini Daud mengasihi Tuhan, sebab Tuhan selalu mau mendengarkan suaranya. "Aku mengasihi TUHAN, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku. Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya." (Mazmur 116:1-2).
Berkali-kali Yesus menyebutkan "siapa bertelinga hendaklah ia mendengar". Tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia, termasuk di dalamnya telinga. Tapi seringkali kita mengabaikan fungsi telinga. Masuk kiri keluar kanan, atau bahkan pura-pura tidak mendengar sudah menjadi bagian hidup kita. Seni mendengar yang baik bukanlah sekedar mendengar dengan telinga, atau cukup dengan bantuan pandangan mata, namun juga mendengar dengan hati. Dalam keluarga, hadiah yang terindah bisa jadi adalah mendengarkan. Ayah yang mau mendengarkan seruan istri dan anak-anaknya, ibu yang mendengarkan suami dan anak-anaknya, atau kakak yang mendengar seruan adik-adiknya. Betapa indahnya jika komunikasi dalam keluarga bisa berjalan lancar.
Ketika banyak ayah yang merasa waktunya terbuang atau terlalu sibuk untuk mendengarkan anak-anaknya, Yesus menunjukkan hal yang sebaliknya. Yesus tidak menganggap anak-anak itu sebagai hal yang tidak penting. Dia memeluk anak-anak dan memberkati mereka. (Markus 10:13-16). Ini salah satu contoh bagaimana Yesus mau meluangkan waktuNya yang singkat di dunia ini untuk memberkati anak-anak. Dia tidak pernah terlalu sibuk untuk mereka. Perempuan Samaria yang bercerita mengenai dahaga hidupnya dalam Yohanes 4 pun Dia layani. Sementara para suami banyak yang merasa terlalu sibuk untuk mendengarkan istrinya. Banyak pria berpikir bahwa mereka sudah terlalu sibuk mencari nafkah sehingga tidak punya waktu lagi untuk mendengarkan. Tapi mendengarkan adalah bagian hadiah berharga yang bisa diberikan seorang ayah/suami bagi keluarganya. Demikian pula antara istri/ibu dengan keluarganya, atau kakak dengan adik-adiknya. Menjadi pendengar yang baik menunjukkan betapa kita peduli dengan keadaan mereka. Sebaliknya, ketika kita malas mendengar, itu menunjukkan betapa kurangnya perhatian dan kasih sayang kepada mereka. Allah sendiri begitu mengasihi kita, maka Dia selalu mempunyai waktu untuk mendengarkan dan menjawab kita.
Petrus mengatakan demikian: "Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati.." (1 Petrus 3:8). Bagaimana mungkin kita bisa memberikan sikap seperasaan, sepenanggungan, menyayangi, mengasihi dan rendah hati jika kita tidak pernah mau mendengar? Marilah kita belajar untuk mau mendengarkan keluarga/teman-teman/tetangga atau saudara-saudara kita, seperti Tuhan pun mau mendengarkan kita.
Tuhan tidak pernah terlalu sibuk untuk mendengarkan kita, bagaimana dengan kita sendiri?
No comments:
Post a Comment