(sambungan)
Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya.
Iman seperti yang dimiliki Daud bisa membuat kita sadar bahwa Tuhan akan selalu lebih besar dari masalah, dan Tuhan peduli pada setiap kesulitan yang tengah kita hadapi.
Ketika banyak tekanan membuat kita sulit tidur, ketika kita dihadapkan kepada situasi-situasi sulit yang seolah tidak punya penyelesaian atau jawaban, serahkanlah semua kepada Tuhan. Ada ribuan janji Tuhan yang tertulis jelas di dalam Alkitab yang seharusnya lebih dari cukup untuk membuat kita bisa tenang.
Masalah ketenangan, ketentraman atau kedamaian ternyata bukan terletak pada ada tidaknya masalah, atau jumlah harta, empuk tidaknya kasur dan hal-hal duniawi lainnya, tetapi justru terletak pada sebesar apa iman kita sebenarnya akan Allah.
Apabila ada di antara teman-teman yang tengah mengalami banyak masalah atau beban pikiran hari ini dan karenanya menjadi sulit tidur, serahkanlah segalanya ke dalam tangan Tuhan. Di dalam Tuhan ada kelegaan, di dalam Tuhan ada jawaban, di dalam Tuhan ada pertolongan, dan tentu saja di dalam Tuhan ada keselamatan.
Malam ini mari kita lepaskan semua beban pikiran yang ada. Datanglah kepadaNya dan rasakan kelembutan jamahan Tuhan yang mampu memberikan kelegaan sehingga anda akan bisa beristirahat dengan tenang. Alami tidur yang nyenyak dengan penyertaan Tuhan sepenuhnya atas diri anda. Sleep well, goodnight, sweet dream.
Sebab Tuhan menopang anda, tenangkan hati dan tidurlah dengan nyenyak

Wednesday, March 19, 2025
Tidur (10)
Tuesday, March 18, 2025
Tidur (9)
(sambungan)
Dalam kitab Yesaya ada ayat yang menegaskan penjagaan Tuhan. "Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya." (Yesaya 26:3). Hati yang teguh dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan akan Dia jaga dengan damai sejahtera yang melimpah.
Kalau kita menyadari bahwa Tuhan yang menjanjikan ini memiliki kuasa jauh diatas apapun, itu seharusnya bisa membuat kita tetap tenang dalam menghadapi kesulitan apapun.
Mana yang lebih besar: Tuhan atau masalah yang sedang dihadapi? Terkadang kita perlu mengingatkan diri kita akan hal ini. Sesungguhnya kedamaian hati bukan terletak pada ada tidaknya masalah melainkan kemana kita arahkan pandangan kita. Kalau kita merasa masalah lebih besar dari Tuhan, tidak heran jika kita terus gelisah, resah dan takut sehingga tidak bisa beristirahat dengan cukup. Padahal, kita jelas butuh tenaga, energi dan pikiran yang sehat untuk bisa menyelesaikan masalah satu demi satu.
Tidak ada solusi baik yang bisa kita pikirkan dengan keadaan otak dan mental yang lelah.
Benar, masalah yang dihadapi itu ril, sementara pertolongan atau campur tangan Tuhan untuk kita bisa mengatasinya terkadang tak kunjung datang. Tapi disanalah kita butuh faith, atau iman. Iman yang digerakkan oleh kasih, iman yang kata Yesus bahkan sebesar biji sesawi saja sudah bisa mendatangkan perkara besar.
(bersambung)
Monday, March 17, 2025
Tidur (8)
(sambungan)
Imannya akan Allah membuatnya yakin bahwa Allah akan selalu melindunginya, dan karena itu ia tetap bisa tidur meski situasinya sedang sangat berat.
Di bagian lain, dalam Mazmur 4:1-8 kita menemukan seuntai doa yang indah dari Daud di malam hari. Bagian ini menunjukkan dengan jelas bagaimana yakinnya Daud akan penyertaan Tuhan dan pertolongannya. Disana kita bisa melihat bagaimana Daud menyadari betul bahwa Tuhan penuh kasih setia dalam menyertai kita, bahwa Tuhan punya kuasa yang lebih besar dari apapun yang ada di kolong langit ini. Dengan menyadari itu Daud tahu betul bahwa ia tidak perlu takut. Ia berkata:
"Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman." (Mazmur 4:9)
"In peace I will both lie down and sleep, for You, Lord, alone make me dwell in safety and confident trust."
Dari beberapa kejadian ini, saya bisa melihat bahwa dalam situasi sulit Daud tetap bisa tidur dengan baik, dan itu bisa ia lakukan semata-mata karena iman yang bisa membuatnya begitu percaya kepada penyertaan dan perlindungan Tuhan.
Dalam kitab Yesaya...
(bersambung)
Sunday, March 16, 2025
Tidur (7)
(sambungan)
Pada satu ketika Alkitab mencatat peristiwa Daud yang harus melarikan dari makar yang dilakukan anaknya sendiri, Absalom. Itu situasi yang pasti terasa menyakitkan sekaligus menakutkan. Masalah yang harus ia hadapi itu besar. Untuk menghindari hal buruk, Daud pun harus melarikan diri dari Yerusalem.
Kisah ini bisa dibaca dalam 2 Samuel 15. Begitulah keadaan Daud saat ia menulis Mazmur 3 yang menjadi ayat bacaan kita kali ini. Dalam Mazmur 3 kita bisa baca bahwa Daud saat itu bukan saja harus mengalami rasa perih di hati akibat perilaku anaknya sendiri, tapi ia juga dimusuhi banyak orang (ay 2), bahkan dianggap tidak mendapat pertolongan Tuhan (ay 3).
Tapi lihatlah. Dalam kondisi seperti itupun Daud ternyata tetap mengandalkan Tuhan. Dengan imannya ia memandang Tuhan sebagai perisainya (ay 4), dan akan menjawab seruannya (ay 5). Itulah yang membuat Daud bisa tetap tegar dalam situasinya yang jauh dari kondusif.
Dan perhatikan ayat setelahnya. Dalam keadaan genting seperti itu, justru kata-kata indah dari Daud pun hadir.
"Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!" (Mazmur 3:6).
Ditengah tekanan sedemikian besar, Daud ternyata masih bisa tidur dengan tenang. Apa sebabnya? Apakah sebab banyaknya harta? statusnya sebagai raja? jumlah pengawal? Sama sekali tidak. Daud dengan jelas menyebutkan alasannya, yaitu: "sebab TUHAN menopang aku!".
(bersambung)
Saturday, March 15, 2025
Tidur (6)
(sambungan)
Ingatlah bahwa ucapan ini disampaikan bukan oleh orang yang sepanjang hidupnya nyaman tanpa masalah, tetapi sebaliknya justru oleh orang yang menghadapi tumpukan banyak masalah sepanjang hidupnya.
Berulang-ulang Daud menyerukan tentang kebaikan Tuhan. Sepanjang kitab Mazmur kita bisa menemukan ratusan ayat yang menunjukkan iman Daud yang percaya sepenuhnya kepada Tuhan meski ketika ia sedang menghadapi masalah atau bahaya.
Dalam kitab 2 Samuel pun kita bisa menemukan perkataan Daud yang tegas menunjukkan seperti apa kebaikan Tuhan itu menaungi hidupnya. "Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan." (2 Samuel 22:3).
Benar, sebagai manusia biasa dia pun tentu pernah mengalami pergumulan-pergumulan dan rasa takut, tetapi ia tidak menyerah dalam perasaan seperti itu dan selalu berhasil untuk kembali mempercayakan hidup sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan. Ia mengalahkan rasa takut atau kuatirnya dan menggantikannya dengan kepercayaan yang didukung oleh imannya.
Sama seperti Daud, dalam menghadapi situasi-situasi sulit atau berbagai bentuk pergumulan kita memerlukan iman, sebuah iman yang akan memerdekakan kita dari rasa takut, khawatir, cemas dan sebagainya, hal-hal yang bisa dengan mudah merebut sukacita dan kedamaian dari hidup kita dan membuat kita menjadi susah tidur.
(bersambung)
Friday, March 14, 2025
Tidur (5)
(sambungan)
Meski begitu, kehidupan Daud bukan sepenuhnya tanpa masalah. Kita tahu ia begitu banyak mengalami masalah atau situasi sulit, dimana banyak di antaranya merupakan masalah hidup dan mati. Kalau setengahnya saja kita alami mungkin sudah bisa membuat kita mati ketakutan.
Menariknya, justru di saat-saat genting seperti itu Daud berulang kali menunjukkan penyerahan dirinya secara total dengan kepecayaan penuh kepada Tuhan.
Lihatlah salah satunya dalam Mazmur 34:1-22. Disana Daud menyatakan dengan jelas indahnya berada dalam perlindungan Tuhan. Lihat apa katanya:
"Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya." (Mazmur 34:7). Ayat ini kemudian disusul dengan "Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka." (ay 8).
Ini baru satu contoh dari begitu banyak ungkapan tingginya tingkat kepercayaan Daud kepada Tuhan atas berbagai situasi sulit yang ia hadapi, dan semua itu tercatat jelas di dalam Alkitab. Itulah sebabnya Daud dengan penuh keyakinan berkata: "Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!" (ay 9).
(bersambung)
Thursday, March 13, 2025
Tidur (4)
(sambungan)
Semua mahluk hidup memerlukan tidur yang cukup agar tetap sehat. Disaat kita tidur, tubuh kita melakukan perbaikan terhadap berbagai kerusakan jaringan sel yang terjadi akibat berbagai aktivitas atau kegiatan kita sehari-hari, dan menjadi waktu dimana anggota tubuh kita pun mendapat waktu istirahatnya.
Ketika tubuh kita sedang sakit, kitapun membutuhkan waktu lebih banyak lagi agar tubuh punya cukup waktu untuk mengganti sel-sel yang rusak agar kita bisa kembali pulih.
Tahukah teman-teman bahwa kebutuhan tidur bukan saja berhubungan dengan kelelahan secara fisik? Sebuah penelitian mengatakan bahwa orang yang banyak mempergunakan otak/pikiran dalam bekerja memerlukan tidur yang justru lebih lama dibanding orang yang bekerja mempergunakan tenaga.
Secara umum para ahli kesehatan sepakat bahwa orang dewasa memerlukan sedikitnya sekitar enam sampai tujuh jam sehari untuk tidur kalau mau sehat. Kalau kurang, antibodi menurun, dan selain penyakit yang bisa muncul, tubuh kita akan terasa lemas, kita jadi sulit untuk konsentrasi, pada satu titik emosi menjadi labil, bahkan bisa membawa halusinasi apabila tubuh dibiarkan tidak tidur berhari-hari lamanya.
Bagi yang sering atau sedang mengalami sulit tidur karena faktor pikiran, ada baiknya kita belajar dari Daud. Daud adalah salah satu tokoh yang dikenal memiliki kedekatan yang sangat intim dengan Tuhan, dan kedekatannya itu sudah ia bangun semenjak masa kecilnya.
(bersambung)
Wednesday, March 12, 2025
Tidur (3)
(sambungan)
Bahkan sekarang anak-anak kecil atau remaja pun sudah banyak yang mengalami hal ini. Di usia mudanya mereka sudah harus berkenalan dengan rasa was-was dan berbagai gangguan psikologis lainnya.
Bisa karena besok akan ulangan, deg-degan karena besok dapat giliran maju ke depan kelas untuk mempresentasikan tugasnya, atau besok guru yang dianggap galak akan mengajar di kelas, semua itu bisa membuat anak-anak kehilangan rasa tentram dan tenang sejak usia dini.
Disamping itu, banyak pula anak yang terganggu secara psikologis akibat berada dalam keluarga broken home. Situasi rumah tangga yang tidak kondusif dengan orang tua yang gemar berkelahi di depan anak-anaknya, orang tua yang berpisah atau bertikai juga menjadikan mereka mulai merasakan sulit tidur karena perasaan yang tidak tenang.
Semakin dewasa, semakin banyak pula persoalan hidup, dan banyak orang semakin kehilangan ketentraman dalam hidupnya.
Ada banyak orang yang mengira bahwa uang atau harta merupakan solusi. Kalau banyak uang kan jadi nggak banyak masalah? Yang banyak masalah cuma orang susah saja. Dikira begitu, padahal itu sama sekali tidak benar.
Kasur-kasur mewah di iklan terlihat begitu empuk dan nyaman seperti menjamin siapapun yang tidur diatasnya bagai tidur di awan sambil tersenyum. Tapi pada kenyataannya tidaklah demikian. Nyatanya, orang yang banyak uang pun punya kegelisahan mereka sendiri. Pemiliknya bisa gelisah takut dicuri, ditipu, atau hal lainnya yang akan menghilangkan uang mereka. Berarti kuncinya pun bukan disitu.
(bersambung)
Tuesday, March 11, 2025
Tidur (2)
(sambungan)
"Papa nggak pernah terpikir sebelumnya bahwa bisa tidur itu ternyata berkat dari Tuhan.." katanya. Ia baru menyadari hal itu saat ia mengalami sulit tidur. He's right. Maka perkataannya menjadi catatan penting buat saya ingat.
Ada banyak hal yang bisa menyebabkan orang menjadi sulit tidur. Biasanya terlalu banyak beban pikiran bisa mengganggu sehingga jadi tidak bisa tidur. Ada yang butuh waktu sangat lama untuk bisa tidur, ada yang menderita insomnia, dan itu tentu beresiko bagi kesehatan.
Apa yang biasanya jadi penyebab adalah ketika permasalahan hidup hadir mengganggu pikiran. Tekanan hidup, tekanan kerja, kecemasan, gelisah, stres, ketakutan, kegelisahan akan sesuatu hal, atau bahkan kalau sudah terlalu lelah, semua itu bisa jadi penyebab orang menjadi sulit untuk memejamkan mata dan tidur dengan tenang.
Sementara ada teman saya yang suka mengalami anxiety attack di tengah tidur. Ia harus minum obat sebelum tidur supaya hal itu tidak terjadi.
Padahal hidup yang sehat mengharuskan kita punya cukup waktu untuk istirahat. Istirahat atau tidur itu harus cukup kualitasnya. Dan ada banyak penyakit yang bisa muncul dari kurang tidur atau kurang istirahat. Tekanan darah bisa naik, asam lambung bisa meningkat sehingga menimbulkan penyakit maag dan lain sebagainya.
(bersambung)
Monday, March 10, 2025
Tidur (1)
Ayat bacaan: Mazmur 4:9
==================
"Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman."
Tidur. Semua orang butuh tidur, secara teori minimal 6 jam sehari supaya tetap sehat. Kalau kebanyakan tidur kita bisa jadi terasa malas, kalau kurang tidur bisa uring-uringan, sulit konsentrasi dan mungkin saja kalau terus-terusan bisa mengundang macam-macam penyakit, seperti tekanan darah meninggi misalnya.
Nah, sehubungan dengan tidur, saya punya satu pertanyaan sederhana: apakah anda termasuk orang yang sering bersyukur saat anda bisa tidur dengan nyenyak, baik dan cukup? Puji Tuhan jika ya, karena banyak yang lupa bahwa bisa tidur nyenyak itu sebenarnya merupakan sesuatu yang sangat patut disyukuri.
Baru saja ayah saya sempat mengalami susah tidur hingga beberapa minggu. Awalnya ia demam dan pegal-pegal, saat demamnya tak kunjung pergi, ia mulai mengalami stres pada pikiran. Maklum, di usia lebih dari 80 tahun dan biasanya aktif, ia tiba-tiba tidak kuat melakukan apa-apa. Dan di usia seperti itu beban pikiran karena takut sakitnya serius membuatnya jadi susah tidur. Padahal ia termasuk orang yang biasanya sangat mudah tidur meski mungkin sedang banyak pikiran.
Pada saya ia mengaku bahwa ia takut dan merasa sendirian, sehingga ia jadi susah tidur. Ia butuh teman ngobrol, setidaknya ada yang menemani disaat ia sedang dalam keadaan stres seperti itu. Saya mencoba beberapa kali menemaninya ngobrol via video maupun audio call, tapi kurang efektif karena ia butuh ada orang yang berada di dekatnya secara fisik. Sayangnya saya tinggal beda kota dan jauh pula.
Akhirnya ia pun menginap dirumah adiknya. Disana ia bisa ngobrol bersama seisi rumah, mereka have fun misalnya nonton sampai karaoke-an, dan ia kembali bisa tidur nyenyak. Begitu bisa tidur, tubuhnya pulih. Ia jadi sepenuhnya sembuh dan kembali beraktivitas normal.
(bersambung)
Sunday, March 9, 2025
The Good Samaritan (14)
(sambungan)
Kalau begitu, apakah kita sudah mencerminkan pribadiNya yang murah hati dan penuh kasih dalam kehidupan sehari-hari? Maukah kita mengorbankan waktu, tenaga, perhatian dan materi untuk datang kepada sesama kita memberi pertolongan tanpa memandang latar belakang ras, suku, agama, golongan atau kepentingan politis lainnya?
Siapkah kita menunjukkan kemurahan hati lewat tindakan nyata yang berasal dari kasih karunia Allah, merupakan cerminan Allah, dan berasal dari kasih?
Hendaknya apa yang kita pelajari dari orang Samaria yang murah hati bisa membuka cakrawala pemahaman kita tentang luasnya daya jangkau kemurahan hati yang harus dimiliki oleh orang percaya.
Masih sangat banyak orang yang dikuasai kebencian, dendam, buruk sangka dan tertutup hatinya untuk mengetahui seluas apa sebenarnya kasih menurut hati Tuhan dimana murah hati menjadi salah satu produk yang bisa secara nyata menyentuh sesama.
Anda sudah menolong tapi bukannya dihargai dan berterimakasih tapi malah menjadikannya masalah untuk melukai anda? Biarlah. Manusia bisa melakukan itu, tapi Tuhan akan sangat menghargai perbuatan anda. Always show real love, real compassion and real generousity based on God's heart we know from the Bible. If the Samaritan did that, we should too.
Generousity is a Practical Expression of Love - Pastor Gary Inrig
Saturday, March 8, 2025
The Good Samaritan (13)
(sambungan)
6. Kemurahan hati itu digerakkan oleh kasih
Yesus mengajarkan: "Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya." (1 yoh 4:21)
Yesus juga berkata: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34).
Sesungguhnya kemurahan hati yang digerakkan oleh kasih memiliki posisi yang sangat tinggi dalam kekristenan. Sudahkah kita memilikinya, dan sudahkah kita mewujudkannya lewat perbuatan-perbuatan nyata kita? Sudahkah kita peka terhadap kesulitan orang di sekeliling kita dan bergerak untuk memberikan bantuan nyata? Atau kita masih berhenti pada ucapan prihatin tanpa perbuatan, masih berhitung untung rugi, memikirkan manfaat apa yang bisa kita peroleh dibaliknya, atau malah tidak peduli sama sekali?
Simpati atau iba itu baik, tapi tidak akan ada hasilnya jika tidak diikuti dengan perbuatan nyata. Dan itu haruslah berasal dari hati yang mengasihi. Itulah sebuah kemurahan hati yang selayaknya dimiliki oleh kita.
Paulus sudah mengingatkan kita akan hal ini: "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." (1 Yohanes 2:6).
Kalau begitu, apakah...
(bersambung)
Friday, March 7, 2025
The Good Samaritan (12)
(sambungan)
Kemurahan hati seperti halnya iman haruslah diikuti dengan sebuah perbuatan nyata. Contoh orang Samaria yang murah hati sangat baik untuk dijadikan pelajaran yang baik mengenai bagaimana sejatinya murah hati itu kita terapkan dalam bentuk-bentuk nyata, bukan sebatas omongan atau retorika.
5. Murah Hati tidak mengharapkan imbalan
Penerapan kemurahan hati yang berdasarkan sebab akibat dan untung rugi tidak akan pernah mendapat pembenaran dari Tuhan. Memberi hanya karena membalas pemberian orang, atau berharap diberi kembali, berbuat baik karena orang baik kepada kita, mengasihi orang karena mereka mengasihi kita, itu semua masih terlalu dangkal.
Yesus mengatakan "Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?" (Matius 5:46-47).
Benar. Dan ini sangatlah mudah kita mengerti kalau melihat apa yang terjadi saat ini. Alangkah menyedihkan kalau kita yang mengaku umatNya malah ikut berperilaku seperti itu.
Jika demikian, yang dituntut dari kita adalah seperti ini: "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (ay 48).
Seperti halnya Bapa di surga mengasihi semua orang dengan sempurna, seperti itu pula kita dituntut untuk berlaku. Membantu, memberi tanpa pamrih, tergerak dan terpanggil untuk melakukan sesuatu secara nyata bukan karena mengharap imbalan atau memiliki tujuan tersembunyi di belakangnya, tapi murni karena belas kasihan, sebuah kemurahan hati yang didasari kasih. Bukan sembarang kasih, tetapi seperti kasih Allah yang tinggal diam di dalam diri kita.
(bersambung)
Thursday, March 6, 2025
The Good Samaritan (11)
(sambungan)
Ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat mendasar. Bagaimana mungkin kita mengaku memiliki kasih Allah, mengaku sebagai anak Allah, tetapi kita tidak melakukan apa-apa secara nyata dan hanya bilang kasihan saja?
Maka apa yang harus kita lakukan pun hadir dalam ayat berikutnya. "Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran." (ay 18).
Bukan hanya dengan perkataan, bukan sebatas di bibir atau lidah saja, tetapi haruslah lewat perbuatan-perbuatan yang dilakukan/diaplikasikan secara nyata dan berakar dalam kebenaran.
Yakobus juga menyinggung perihal kemurahan hati yang diikuti dengan perbuatan nyata ini. Mari kita lihat apa yang ia utarakan. Ia berkata "Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?" (Yakobus 2:15-16).
Bukankah banyak diantara kita yang masih tanpa sadar melakukan ini? Ketika orang butuh bantuan, kita mungkin menunjukkan rasa prihatin, bahkan mungkin mengeluarkan kata-kata nasihat yang panjang, menguliahi atau mengkotbahi mereka, tetapi kita tidak melakukan apapun secara nyata untuk meringankan beban mereka. Yakobus mengingatkan bahwa semua itu tidaklah berguna. Itu sama saja dengan iman yang hanya kita katakan, kita hanya mengakui kita memiliki iman, tapi kita tidak menyertainya dengan perbuatan. Dan iman seperti ini dikatakan pada hakekatnya adalah mati. (ay 17).
(bersambung)
Wednesday, March 5, 2025
The Good Samaritan (10)
(sambungan)
Firman Tuhan pun sudah berkata bahwa "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan." (Amsal 11:24) dan "Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki." (28:27). Firman Tuhan sudah mengatakan bahwa kerelaan memberi, membagikan sebagian dari apa yang ada pada kita untuk saudara-saudara kita yang tengah kesusahan tidak akan pernah membuat kita berkekurangan.
Ini sejalan dengan bagian dari kotbah Yesus di atas bukit : "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan." (Matius 5:7).
4. Murah Hati harus ditunjukkan lewat perbuatan nyata.
Cukupkah murah hati itu diwakili oleh sebuah perasaan kasihan, ungkapan simpati yang hanya berhenti hingga kata-kata yang keluar dari mulut saja tapi tidak disertai perbuatan nyata? Kita tahu jawabannya adalah tidak, tapi banyak dari kita yang berhenti sebatas itu saja karena malas atau takut repot dan rugi.
Firman Tuhan berkata: "Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17).
(bersambung)
Tuesday, March 4, 2025
The Good Samaritan (9)
(sambungan)
Sebuah sikap murah hati dikatakan Firman Tuhan mendatangkan banyak kebaikan kepada diri sendiri, bukan hanya kepada orang-orang yang kita bantu saja. Sebaliknya orang yang tega melihat kesusahan orang lain dan menutup pintu hatinya rapat-rapat, itu tidaklah mendatangkan manfaat tapi malah merugikan bahkan menyiksa diri sendiri.
Bukankah hati yang dipenuhi kebencian, sikap apatis, tidak punya empati dan simpati tidak akan pernah membuat kita bahagia? Bukankah sikap-sikap negatif pada hati yang berlawanan dengan murah hati merupakan kontradiksi dari kasih? Kalau sudah begitu bagaimana kita mau merasakan damai sejahtera?
Hidup yang tidak merasakan kedamaian dan sukacita akan sangat berat dijalani. Itu akan sangat menyiksa kita. Bangun pagi sudah merasa pahit di hati, sudah merasakan kebencian dan kemudian menyebar kebencian dalam kehidupan yang dijalani. Bayangkan betapa menderitanya hidup seperti itu.
Orang baru bisa murah hati kalau hatinya dipenuhi kasih. Orang yang hatinya seperti itu akan sangat bahagia kalau bisa membantu orang lain. Semakin banyak yang dibantu, semakin bahagia pula hatinya. Itu berarti kita berbuat baik pada diri kita sendiri. Tapi yang hatinya berisi hal-hal berlawanan dengan kasih sama saja dengan menyiksa badannya sendiri, baik saat masih di dunia maupun nanti pada masa kekekalan. Siksaan yang kekal nanti akan jauh lebih mengerikan dibanding sekarang. Karena itu Firman dalam Amsal 11:17 di atas sangat penting untuk kita ingat.
(bersambung)
Monday, March 3, 2025
The Good Samaritan (8)
(sambungan)
Tapi bagaimana jika orang yang hendak kita tolong bukannya berterimakasih tapi malah merugikan kita? Itu pun masih kerap terjadi hari ini. Sudah menikmati kebaikan tapi malah menyakiti orang yang sudah memberikannya. Bukannya berterimakasih tapi malah merugikan orang yang sudah berbaik hati. Bagaimana mungkin ada orang yang seperti itu? Entahlah. Tapi kenyataannya ada saja orang berhati seperti itu yang masih hidup di dunia ini.
Bahkan bukan cuma dalam hubungan horizontal antar manusia, kita pun kerap melakukan hal yang sama dalam hubungan vertikal dengan Tuhan. Sudah kita nikmati berkat dan kasihNya, kita masih tega menyakiti Tuhan lewat perbuatan-perbuatan kita yang buruk. Tapi hati Bapa terus setia mengasihi. Dia bahkan menganugerahkan AnakNya sendiri untuk menebus orang-orang berdosa yang butuh pertolongan termasuk kita.
Pertama, murah hati menurut kekristenan jelas punya daya jangkau sangat luas yang menembus sekat-sekat dan batas perbedaan. Kedua, murah hati menurut kekristenan tidak pernah tergantung dari latar belakang penerimanya atau reaksi apa yang akan kita dapat dari mereka melainkan tergantung dari seperti apa kondisi hati kita, apakah dipenuhi kasih karena adanya Roh Allah berdiam disana atau tidak. Jadi bukan karena orang, tapi karena Tuhan. Seperti itulah murah hati seharusnya menurut kekristenan.
3. Murah Hati bukan saja mendatangkan kebaikan bagi sesama tapi juga pada diri sendiri
Kalau kita mundur ke belakang, dalam Amsal disebutkan "Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri." (Amsal 11:17).
(bersambung)
Sunday, March 2, 2025
The Good Samaritan (7)
(sambungan)
Dari kisah orang Samaria ini kita bisa belajar beberapa hal mengenai murah hati.
1. Orang yang murah hati tidak akan berdiam diri saat ada orang yang ditimpa kesusahan dan membutuhkan bantuan
Saat kedua petinggi rohani memilih untuk tidak melakukan apa-apa dengan alasan tertentu, orang Samaria yang murah hati melakukan sesuatu tanpa memandang sekat apapun.
Kalau melihat jejak permusuhan antara Samaria dan Yahudi, bukankah seharusnya orang Samaria ini tertawa puas melihat ada orang Yahudi yang sekarat disana? Ia bisa saja menambahkan satu dua penderitaan lagi terhadap korban yang sudah tidak berdaya.
Tertawa di atas penderitaan orang lain, tidak kunjung puas menyiksa, itu dilakukan oleh banyak orang yang hatinya dipenuhi kebencian sampai hari ini. Yesus mengajarkan bahwa orang yang memiliki kemurahan hati tidak akan berdiam diri melihat ada yang tengah menderita dan butuh bantuan, apapun alasannya. Kapanpun, dimanapun, untuk siapapun, kalau kita melihat ada yang butuh bantuan kita tidak boleh berdiam diri. Itulah kemurahan hati poin pertama.
2. Orang yang murah hati membantu tanpa memandang latar belakang yang ditolong
Orang Samaria menunjukkan kemurahan hati karena ia bergerak menolong orang Yahudi ini tanpa memandang latar belakangnya. Inilah bentuk sebuah kemurahan hati yang seharusnya ada pada kita, yang tidak terhenti hanya karena adanya perbedaan-perbedaan seperti suku, ras, agama, golongan dan lain-lain.
(bersambung)
Saturday, March 1, 2025
The Good Samaritan (6)
(sambungan)
Rincinya, orang Samaria ini:
1. Memiliki belas kasihan dalam hatinya
2. Belas kasihan itu menggerakkannya untuk memberi pertolongan
3. Ia melakukan P3K pada korban sekarat yang tidak ia kenal dan notabene merupakan orang dari suku yang bermusuhan
4. Ia meninggalkan kenyamanan naik keledai dan berjalan menuntun keledai yang diatasnya ada orang sekarat
5. Ia menunda kegiatannya atau perjalanannya untuk menolong korban
6. Ia menginap satu malam agar bisa melakukan perawatan lebih lanjut
7. Ia memberi sejumlah uang pada pemilik penginapan agar merawat korban sampai sembuh
8. Ia berjanji akan kembali menjenguk korban untuk memastikan apakah korban sudah dirawat baik dan akan kembali pulih
Perhatikan betapa jauh perbedaan antara orang Samaria dengan kedua bapak petinggi rohani sebelumnya. Orang Samaria ini bergegas menolong orang Yahudi, meskipun dengan resiko ia akan dibenci oleh orang yang ditolongnya. Ia tidak peduli, karena kemurahan hati adalah sesuatu yang murni dari hati dan bukan berdasarkan hitungan untung rugi.
Apakah ia sedang santai sehingga punya banyak waktu untuk menolong? Kalau melihat dari kedatangannya mengendarai keledai, saya pikir ia sedang menempuh perjalanan jauh makanya memilih untuk naik keledai ketimbang jalan kaki. Ia mungkin sudah lelah, ia pun mungkin buru-buru. Dia tentu punya agendanya sendiri yang harus ia korbankan saat memutuskan untuk melakukan sesuatu dengan digerakkan oleh rasa belas kasihan.
Apapun resikonya, berapapun yang harus ia korbankan, ia tidak peduli. Hatinya tergerak oleh belas kasihan, dan ia menolong tanpa pandang bulu. Tanpa memandang apa agamanya, apa sukunya, siapa orang itu, yang ia tahu adalah, orang itu butuh pertolongan, ia ada disana dan bisa melakukan sesuatu. He did that right away. Tidaklah salah kalau ia disebut sebagai orang Samaria yang murah hati.
Dari kisah orang Samaria ini kita bisa belajar beberapa hal mengenai murah hati.
(bersambung)
Friday, February 28, 2025
The Good Samaritan (5)
(sambungan)
Mari kembali kepada perumpamaan dari Yesus. Apa yang dilakukan oleh orang Samaria yang baik hati? Yesus berkata seperti ini.
" Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali."(ay 34-35).
Ia segera memberi Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K), memberi desinfektan pada luka-luka sebelum melakukan langkah selanjutnya, yaitu menaikkan orang itu ke atas keledainya untuk dibawa ke tempat penginapan.
Perhatikan, orang Samaria ini tidak mengenal siapa yang ia tolong. Hari saat itu mungkin panas terik. Tapi ia rela turun dari keledainya dan menuntun keledai dengan orang yang tengah sekarat di atasnya menuju tempat dimana ia bisa melakukan perawatan lebih banyak lagi.
Bukankah sangat memalukan saat dua petinggi rohani yang mengaku bagian dari umat pilihan Tuhan hanya berdiam diri saat melihat warganya sendiri tengah menderita, sekarat di tengah panas terik siang hari? Sebaliknya orang Samaria memiliki sikap murah hati.
(bersambung)
Thursday, February 27, 2025
The Good Samaritan (4)
(sambungan)
Kemudian lewatlah orang Samaria. "Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. (ay 33).
Dari awal ayat ini kita bisa langsung melihat adanya perbedaan. Tidak seperti bapak imam/pendeta atau bapak Lewi/pengerja, orang Samaria langsung merasakan belas kasihan dalam hatinya dan itu menggerakkannya untuk melakukan sesuatu.
Siapa orang Samaria? Mengapa Yesus mengambil contoh orang yang berbelas kasihan ini dalam rupa orang Samaria?
Dalam Yohanes 4:9 kita melihat Yohanes menambahkan catatan kecil dalam kisah perempuan Samaria sebagai berikut: "(Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)".
Sedikit catatan tambahan: orang Samaria tercatat memiliki sejarah peseteruan atau permusuhan yang tajam dan panjang dengan Yahudi.
Orang Samaria menyembah ilah-ilah lain sehingga dianggap sesat oleh orang Yahudi. Selain beda kepercayaan, mereka juga dibenci karena dianggap tidak berdarah murni karena merupakan hasil percampuran antara orang Yahudi dan non Yahudi.
Mari kembali kepada perumpamaan dari Yesus. Apa yang dilakukan oleh orang Samaria yang baik hati?
(bersambung)
Wednesday, February 26, 2025
The Good Samaritan (3)
(sambungan)
Kenapa imam itu tidak menolong? Mungkin sang imam takut tersangkut masalah. Mungkin dia sedang buru-buru takut telat kotbah lalu tidak dipanggil lagi oleh gereja yang bersangkutan. Atau mungkin juga ia merasa itu bukan tugasnya tapi urusan dokter atau pihak berwajib. Atau ia sedang buru-buru hendak pulang karena merasa lelah sehabis melayani.
Ada banyak alasan lain yang mungkin ada di benak sang imam sehingga ia melewati saja tanpa melakukan apa-apa terhadap orang yang sedang tertimpa musibah ini. Alasan persisnya hanya dia yang tahu. Yang jelas ia tidak melakukan apa-apa dan meneruskan perjalanannya.
Selanjutnya ada orang Lewi lewat disana. "Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan." (ay 32).
Bukannya menolong, orang Lewi ini malah menjauh ke seberang dan buru-buru berlalu seperti bapak imam tadi.
Siapakah orang Lewi? Kenapa Yesus menyebutkan orang Lewi sebagai contohnya?
Jika kita melihat kitab Perjanjian Lama, kita akan mendapati bahwa orang Lewi berbicara tentang pelayan-pelayan dan hamba Tuhan. Dalam proyeksi ke jaman sekarang, orang Lewi berbicara tentang orang-orang Kristen yang melayani. Tapi sama seperti sang imam, ia pun hanya melewati saja tanpa berbuat apa-apa.
Kenapa? Mungkin dia terburu-buru karena takut terlambat pelayanan. Mungkin dia takut ditegur oleh gembalanya. Mungkin dia tidak mau ribet berurusan dengan pihak berwajib, sedang lapar berat habis melayani, mau buru-buru pulang dan melanjutkan tidur yang tertunda atau alasan-alasan lainnya.
Yang jelas, seperti halnya bapak imam, bapak Lewi ini pun melewati orang sebangsanya yang tengah sekarat tanpa melakukan apa-apa.
(bersambung)
Tuesday, February 25, 2025
The Good Samaritan (2)
(sambungan)
Perihal luas jangkauan murah hati menurut prinsip Kerajaan Surga disampaikan oleh Yesus langsung ketika menanggapi pertanyaan yang sama dari seorang ahli Taurat seperti yang dicatat dalam Injil Lukas pasal 10.
Ahli Taurat itu bertanya: "Dan siapakah sesamaku manusia?" (ay 29).
Untuk menjawab hal ini, agar lebih mudah dicerna, Yesus pun memberikan sebuah perumpamaan yang tentunya tidak lagi asing bagi kita, yaitu perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati, yang juga menjadi judul dari perikop Lukas 10:25-37.
Yesus membuka perumpamaannya seperti ini. "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati." (Lukas 10:30).
Dalam keadaan sekarat, orang itu ditinggalkan begitu saja di tengah jalan, sementara harta bendanya dirampas oleh perampok-perampok itu.
Kemudian ada dua orang yang melintas di tempat kejadian. "Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan." (ay 31).
Ada seorang imam lewat disana. Kalau anda yang tengah sekarat, tentu anda merasa lega karena seorang imam seharusnya menjadi perpanjangan tangan Tuhan di dunia, jadi tentulah ia akan menolong. Sayangnya saat melihat orang yang sedang sekarat, imam ini malah bergegas melewati saja tanpa memberi pertolongan. Kenapa bisa begitu?
(bersambung)
Monday, February 24, 2025
The Good Samaritan (1)
Ayat bacaan: Lukas 10:33
===================
"Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan."
Dalam renungan sebelumnya kita sudah belajar banyak tentang sebuah sikap hati yang wajib dimiliki oleh orang percaya sebagai cerminan dari sikap hati Bapa sendiri, yaitu murah hati.
Kita harus memiliki sikap murah hati terhadap sesama seperti halnya Bapa yang murah hati (Lukas 6:36), dan murah hati juga merupakan produk dari kasih. Kalau kita punya kasih, seharusnya murah hati menjadi sesuatu yang lumrah dan alamiah dari hidup kita.
Murah hati terhadap sesama. Sebuah pertanyaan muncul. Siapa yang dimaksud dengan sesama itu? Kata sama bisa mengacu kepada satu golongan satu level, setingkat, sekelas. Kalau begitu, seluas apa cakupannya, kepada siapa kita harus bermurah hati?
Ini merupakan pertanyaan penting karena pada kenyataannya di luar sana banyak orang yang membatasi perbuatan baiknya hanya pada kelompoknya sendiri. Adalah salah jika memberkati orang yang berbeda dengan mereka, salah bila mengucapkan ucapan salam sejahtera kepada yang tidak sejalan dengan mereka, salah pula kalau menolong.
Benar, aplikasinya tetap mengacu pada kata sesama, hanya saja cakupannya sangat segmented atau terbatas. Bagi orang percaya, sejauh mana luas dan lebar daya jangkau yang harus kita rentangkan dalam mengaplikasikan murah hati menurut prinsip kekristenan? Siapa saja yang harus kita jangkau, seluas apa kata sesama itu menurut Firman Tuhan?
(bersambung)
Sunday, February 23, 2025
Kasih Itu Murah Hati (7)
(sambungan)
Suatu kali saya pernah membaca sebuah tulisan menarik mengenai murah hati. Si penulis mengatakan, alangkah menyedihkan saat melihat orang tidak memiliki sikap murah hati dalam hidupnya tapi terus mengharapkan bahkan menuntut Tuhan untuk bermurah hati kepada mereka.
How can we expect God to be generous with us but we have not been showing generousity towards others?
Si penulis mengatakan, itu sama saja seperti mencoba mencuri dan memeras Tuhan. Kita mungkin tahu bahwa itu sama sekali tidak pantas, tapi tanpa sadar banyak dari kita yang terjatuh dalam hal ini.
Adalah sangat penting bagi kita untuk memeriksa apakah kemurahan hati sudah diproduksi dari dalam hati kita. Jika belum, periksalah segera dimana letak masalahnya. Manusia yang dalam hidupnya punya Roh Allah seharusnya menghasilkan buah-buah yang sama dengan apa yang keluar dari hati Allah.
Kemurahan hati merupakan produk dari hati yang dipenuhi kasih, yang seharusnya mengalir secara natural atau alami dari kehidupan orang benar. Kemurahan hati tidak pernah tergantung dari berapa banyak yang kita punya, atau apakah kita sudah memenuhi semua kebutuhan kita atau tidak.
Kemurahan hati tidak tergantung dari kondisi dan situasi. Kemurahan hati adalah sebuah kasih karunia, cerminan hati Allah dan produk dari kasih yang akan menjadi bagian alami dari hidup kita kalau kita benar-benar menghidupi kebenaran. Ada banyak orang yang saat ini tengah mengalami kesesakan, siapkah kita untuk bermurah hati pada mereka?
"A christian who withdraws into himself, hiding all that the Lord has given him, is not a Christian. I would ask the people present to be generous with their given talents for the good of others, the church and our world." - Pope Francis
Saturday, February 22, 2025
Kasih Itu Murah Hati (6)
(sambungan)
Jangan lupa bahwa kasih itu bukan sekedar perasaan hati, bukan salah satu sifat Tuhan saja, tapi dikatakan merupakan pribadi Allah sendiri.
"Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8).
Allah adalah kasih. God is not just full of love, but He is the Love itself. Karena itu kita belumlah mengenal Allah apabila kita masih belum memiliki kasih dalam diri kita. Kasih terhadap Tuhan dan sesama yang ada dalam hati kita akan menghasilkan kualitas hati yang penuh dengan kemurahan dan kebaikan-kebaikan lainnya.
Untuk hari ini saya harap kita semua bisa melihat bahwa kemurahan hati memiliki tiga dasar utama. Begitu pentingnya murah hati sebagai produk yang diwarisi langsung dari Bapa Surgawi, sehingga tidaklah mengherankan apabila Dia melimpahi orang-orang yang murah hatinya dengan kemurahanNya yang tak terbatas.
Hal ini juga disebutkan langsung oleh Tuhan Yesus dalam kotbahnya di atas bukit. "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. " (Matius 5:7).
(bersambung)
Friday, February 21, 2025
Kasih Itu Murah Hati (5)
(sambungan)
3. Murah hati merupakan salah satu produk kasih
Lihatlah ayat berikut: "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong." (1 Korintus 13:4).
Seperti yang sudah sering saya sampaikan, intisari dari kekristenan adalah kasih. Kasih punya kekuatan begitu besar yang bahkan sanggup menggerakkan Tuhan untuk mengorbankan Yesus untuk menyelamatkan kita. Kalau ada yang bertanya, seperti apa sebenarnya kasih itu? Apa yang disampaikan Paulus dalam 1 Korintus pasal 13 menjabarkan berbagai produk kasih secara lengkap dan detail, dimana salah satunya adalah kemurahan hati.
Jadi kalau kita masih sulit untuk bermurah hati, masih tidak peduli terhadap kesulitan atau penderitaan orang lain, tentu kita harus mencari tahu kenapa hati kita masih belum memiliki kasih sehingga tidak menghasilkan produk murah hati dari sana.
Selanjutnya mari kita pindah ke surat Galatia. Dalam salah satu bagiannya disebutkan bahwa kasih adalah salah satu buah Roh, alias buah-buah yang dihasilkan oleh orang yang dipimpin oleh Roh Allah, dan tidak ada satupun hukum yang mampu menentang hal tersebut. (Galatia 5:22-23).
Jadi apabila kita berakar pada Tuhan, kasih seharusnya menjadi buah yang dihasilkan hidup kita. Jika kita gabungkan dengan ayat 1 Korintus 13:4 di atas, kasih kemudian akan melahirkan berbagai produk dimana murah hati adalah satu diantaranya.
(bersambung)
Thursday, February 20, 2025
Kasih Itu Murah Hati (4)
(sambungan)
2. Murah hati adalah cerminan pribadi Bapa
Seperti yang saya sampaikan dalam renungan sebelumnya dan di awal renungan ini, Tuhan Yesus sendiri menyampaikan seruan penting mengenai dasar dari kemurahan hati, yaitu: "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36)
Seorang anak biasanya mewarisi sifat-sifat orang tuanya. Seorang ayah yang memberi keteladanan baik akan menghasilkan anak-anak berkualitas moral baik pula. Selain orang tua di dunia, kita punya Bapa Surgawi yang sangat mengasihi kita. Dia menginginkan yang terbaik bagi kita. Dia akan senantiasa menjaga, melindungi dan memberkati kita. Dia tidak pernah kekurangan waktu untuk mendengar kita dan mengulurkan bantuan. Dia tidak akan berhenti mengasihi kita dengan kasih setiaNya yang tak terbatas.
Oleh karena itu, kalau kita menyadari betapa besar, banyak dan tak terbatasnya kemurahan hati Tuhan atas kita, sudah seharusnya kita pun mencerminkan sikap hati yang sama denganNya. Kalau seorang ayah menunjukkan kemurahan hati dalam hidupnya, anak akan belajar dan menerapkan itu juga dalam hidupnya. Kalau kita menyadari bahwa kemurahan hati Tuhan itu begitu luar biasa besar tak terukur, bukankah kita seharusnya pun memiliki hati yang sama?
Alangkah aneh kalau kita mengaku sebagai anak Tuhan, mengaku Roh Allah tinggal dalam diri kita tapi output hidup kita tidak mencerminkan itu sama sekali. Kemurahan hati adalah salah satu dari kualitas Allah yang seharusnya secara natural terpancar dari hidup kita. Bukan soal royal memberi dengan berbagai motivasi tetapi memberi yang benar-benar berasal dari kemurahan hati. Seharusnya sikap ini bisa terlihat atau dirasakan secara nyata oleh sesama kita sehingga mereka bisa mengenal pribadi Allah lewat diri kita anak-anakNya.
(bersambung)
Wednesday, February 19, 2025
Kasih Itu Murah Hati (3)
(sambungan)
Seperti yang saya sampaikan di atas, kemurahan hati tidak hanya bicara soal materi tetapi lebih jauh lagi menyangkut banyak hal. Bukankah keselamatan pun diberikan kepada kita sebagai sebuah anugerah cuma-cuma yang menunjukkan kemurahan hati Tuhan kepada manusia yang tak terukur besarnya?
Hari ini saya ingin menyampaikan beberapa poin yang bisa menjadi titik tolak atau dasar mengenai murah hati. Mari kita lihat satu persatu.
1. Murah hati yang sejati merupakan kasih karunia dari Allah
Sebuah ayat berkata: "Sebab Ia berfirman kepada Musa: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati." Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah." (Roma 9:15-16).
Kalau kemurahan hati berasal dari kasih karunia Allah, mengapa masih saja sulit bagi banyak orang untuk bermurah hati? Itu terjadi karena tidak semua orang sadar dan memeriksa apa saja kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah dalam hidupnya.
Ada yang tahu tapi tidak menggunakannya dalam perbuatan-perbuatan nyatanya, ada yang pura-pura tidak tahu, ada yang tidak sadar sama sekali, ada yang mengabaikan.
Ambil sebuah contoh sederhana. Apabila anda diberikan sebuah baju yang indah, anda bisa memakainya, tapi anda bisa juga hanya menyimpannya, memutuskan untuk tidak dipakai, bisa lupa akan keberadaannya, ditimbun di lemari atau bisa pula membuangnya.
Seperti itu pula kemurahan hati yang sudah diberikan Allah kepada kita. Alangkah indahnya apabila kita hargai dengan mempergunakannya kepada sesama, tapi betapa sayangnya kalau itu tidak kita pakai dan dibiarkan / diabaikan saja keberadaannya atau malah dibuang sia-sia.
(bersambung)
Tuesday, February 18, 2025
Kasih Itu Murah Hati (2)
(sambungan)
Ada orang-orang yang berusaha menyogok Tuhan lewat pelayanan atau sedekah. Ada yang merasa bahwa keselamatannya akan diukur dari jumlah pemberiannya kepada gereja atau orang lain. Ada yang mencari popularitas dengan memamerkan kedermawanannya. Saat seseorang berpikir bisnis dalam memberi, berhitung untung rugi dan profit, itu bukan lagi murah hati melainkan bentuk investasi yang mengharapkan modal kembali dan keuntungan, berhitung untung rugi.
Beberapa waktu lalu kita sudah melihat bentuk kemurahan hati dari dua ibu janda pada jaman yang berbeda. Kalau kita lihat dalam Alkitab, ada banyak sekali pelajaran tentang kemurahan hati yang lebih dari sekedar keringanan untuk membantu sesama hanya dari sudut finansial saja.
Sebuah pesan penting yang disampaikan oleh Yesus sendiri pada masa kedatangannya ke bumi dengan jelas menyerukan kewajiban kita untuk bermurah hati disertai alasannya. Ayatnya berbunyi sebagai berikut:
"Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36).
Pesan ini secara tegas menyatakan bahwa kemurahan hati kita seharusnya mengikuti bentuk kemurahan hati Bapa yang begitu besar kepada anak-anakNya. Kalau Bapa adalah kasih, dan murah hati adalah salah satu produk yang keluar dari hati yang penuh kasih, kalau hidup kita memang dipenuhi Roh Allah, tentu murah hati seharusnya menjadi sesuatu yang natural dalam hidup kita, sesuatu yang secara alamiah keluar dari dalam diri kita.
Orang seharusnya bisa melihat dan merasakan langsung kehadiran Tuhan lewat diri kita, anak-anakNya. Dan sikap murah hati merupakan salah satu buah Roh yang akan bisa dirasakan secara nyata oleh orang lain.
(bersambung)
Monday, February 17, 2025
Kasih Itu Murah Hati (1)
Ayat bacaan: 1 Korintus 13:4
=================
"...; kasih itu murah hati;..."
Anda tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah 'murah hati'. Apakah yang dimaksud dengan murah hati itu? Jika mengacu pada kamus, murah hati didefenisikan sebagai sebuah perilaku yang mudah memberi, tidak pelit, tapi juga penyayang, penuh kasih, suka menolong dan baik hatinya. Istilah lainnya yang sepadan dengan murah hati adalah dermawan.
Dalam bahasa Inggris, kata ini diartikan sebagai sebuah sikap yang menunjukkan kesediaan (willingness) untuk memberi sesuatu , baik uang maupun waktu, lebih dari apa yang seharusnya atau diharapkan. Ada definisi lain yang menyatakan bahwa murah hati adalah sikap yang menunjukkan atau menyatakan kebaikan pada sesama.
Dari definisi-definisi diatas, kita bisa melihat bahwa sebuah kemurahan hati merupakan sebuah sikap, kesediaan atau keputusan untuk memberikan sesuatu dari kita kepada orang lain didasari kasih dimana sikap ini menyangkut banyak aspek dalam kehidupan dan dalam interaksi antar manusia.
Banyak orang berpikir bahwa murah hati itu sama dengan royal alias suka bersedekah. Itu memang bentuk dari murah hati, tetapi murah hati tidaklah secara sempit berbicara hanya mengenai memberi dalam bentuk material saja melainkan juga dalam banyak bentuk lainnya seperti waktu, tenaga, telinga, atensi atau perhatian dan sebagainya.
Tapi di sisi lain, yang juga harus kita ingat adalah tidak semua sikap memberi berasal dari sikap murah hati. Mengapa? Karena ada banyak motivasi yang terkandung dibalik memberi. Ada yang mengharap balasan, ada yang berusaha menyogok, memberi karena ingin mendapat berlipat kali ganda alias fokus kepada perolehan bukan karena hati yang mengasihi.
(bersambung)
Sunday, February 16, 2025
Kasih Sebagai Sumber Daya Iman (6)
(sambungan)
Ingat pula bahwa aliran kasih itu akan mampu menghindarkan kita dari banyak kejahatan, sekaligus menyembuhkan berbagai luka dan membawa pengampunan bagi orang yang pernah menyakiti kita. "Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa." "For love covers a multitude of sins [forgives and disregards the offenses of others]." (1 Petrus 4:8).
Mumpung kita berada di bulan penuh kasih bagi yang merayakan hari kasih sayang atau Valentine's Day, sekarang waktunya kita memeriksa kembali apakah iman masih terhubung dengan sumber dayanya yaitu kasih, dan apakah sumber daya kasih itu masih hidup dalam diri kita. Kita harus memastikan bahwa kasih menggerakkan iman dalam hidup kita, sehingga kita bisa terus melangkah dengan kepastian dan jaminan dari Tuhan.
Adalah percuma jika kita mengikuti tata cara, ritual dan kebiasaan tetapi melupakan esensi terpenting yang menjadi dasar utama kekristenan. Hari ini kita belajar bahwa kita tidak bisa mengaku beriman tanpa memiliki kasih, iman tidak akan bisa bekerja tanpa adanya kasih.
Selamat Hari Valentine, pastikan kasih tetap ada dalam hidup kita dan tetap jadikan itu sebagai sumber daya iman bekerja dalam diri kita.
Iman hanya bisa berfungsi jika ada aliran dari sumber dayanya yaitu kasih
Saturday, February 15, 2025
Kasih Sebagai Sumber Daya Iman (5)
(sambungan)
Kasih adalah prinsip dasar dalam kekristenan. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika Yohanes dengan tegas mengingatkan kita agar terus saling mengasihi.
"Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi..." (1 Yohanes 3:11).
Kemudian Yohanes mengingatkan kita pula akan akibat yang timbul jika kita tidak mengasihi atau memiliki kasih, "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut" (ay 14), dan dengan lebih keras melanjutkan bahwa "Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia" (ay 15).
Maka dengan tegas kita harus menolak kehadiran iri hati dan berbagai kebencian serta bentuk kejahatan lainnya untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Kita harus mencegah apapun yang bisa membuat kabel kasih kita terputus dari sumber dayanya.
Kasih adalah esensi dasar ajaran Kristus. Sedemikian pentingnya sehingga dikatakan "Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih." (1 Korintus 13:13).
(bersambung)
Friday, February 14, 2025
Kasih Sebagai Sumber Daya Iman (4)
(sambungan)
Bagaimana jika tidak ada aliran kasih dalam diri kita? Itu akan sama dengan peralatan elektronik kita tanpa adanya listrik. Bayangkan bagaimana hidup tanpa kasih. Kita akan dengan mudahnya membenci orang lain, mendendam atau merasa iri hati dan cepat tersinggung. Kita akan hidup mencari kepentingan sendiri dan tega mengorbankan siapapun demi diri kita.
Jika itu sampai terjadi maka berbagai perbuatan jahat lainnya akan mengintip dan siap menerkam kita, Dan hal itu sudah diingatkan oleh Firman Tuhan. "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:16).
Membiarkan diri tanpa kasih itu sangatlah berbahaya. Disanalah akan terbuka banyak lahan subur bagi iblis untuk berpesta di dalam kita. Perhatikanlah bahwa kasih termasuk salah satu buah Roh (Galatia 5:22), sementara iri hati dan berbagai sikap jahat lainnya adalah bagian dari keinginan daging (ay 19-21).
Kemudian lihatlah ayat ini: "Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki" (ay 17).
Artinya, ketika hal ini terjadi, aliran kasih dalam diri kitapun akan terganggu. Hubungan kita dengan Tuhan terputus, iman kita tidak bekerja lagi dan tentu semua itu merugikan bahkan siap menghancurkan kita sampai habis.
(bersambung)
Thursday, February 13, 2025
Kasih Sebagai Sumber Daya Iman (3)
(sambungan)
Paulus memulai bagian ini dengan penegasan tentang kemerdekaan yang sesungguhnya sudah diberikan kepada orang percaya lewat Kristus. (ay 1). Tapi banyak yang tidak mengetahuinya dan masih bergantung kepada prosesi atau ritual, bahkan menganggap prosesi dan ritual sebagai hal yang terpenting lalu melupakan apa yang justru seharusnya menjadi yang terutama yang harus kita lakukan. Maka Paulus pun mengatakan sia-sialah semua itu tanpa adanya satu hal yang terpenting dalam hidup untuk kita miliki, yaitu iman.
Iman. Itulah yang dikatakan Paulus sebagai hal yang "mempunyai sesuatu arti", alias bermakna, atau something that really counts.
Lantas perhatikan ayat Galatia 5:6 bagian terakhir, disana dikatakan bahwa iman itu bekerja oleh kasih. Dalam versi English Amplified bagian ini tertulis dengan sangat detil, yaitu: "...faith activated and energized and expressed and working through love."
Iman diaktivasi, diberi tenaga/daya dan diekspresikan dan bekerja lewat kasih.
Dari mana iman itu timbul? Firman Tuhan mengatakan bahwa "..Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17).
Dari sanalah iman itu berasal. Benih-benih Firman Tuhan yang kita tabur dan jatuh di tanah yang baik akan membuat benih-benih itu bertunas dan tumbuh subur.
Selanjutnya kita butuh sumber daya yang akan menggerakkan agar iman itu bisa terus berbuah baik untuk kebaikan kita sendiri maupun kebaikan sesama, dan sumber daya itu ternyata, dan tidak lain adalah kasih. Sedemikian pentingnya arti kasih itu, jauh lebih penting dari hal-hal lainnya.
(bersambung)
Wednesday, February 12, 2025
Kasih Sebagai Sumber Daya Iman (2)
(sambungan)
Bagaimana dengan iman?
Dengan apa iman sebenarnya bekerja?
Apakah iman juga butuh sumber daya seperti halnya perangkat-perangkat elektrik kita?
Banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa ternyata iman pun butuh 'sumber daya' agar iman tetap bisa aktif. Dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup, kita jelas butuh iman supaya bisa tetap melangkah maju tanpa diganggu rasa kuatir akan ketidakpastian atau kendala-kendala yang menyusahkan kita. Agar iman itu tetap menyala dan bekerja dengan baik, ada yang dibutuhkan sebagai sumber dayanya. Apakah itu?
Sumber daya yang mampu menggerakkan iman itu ternyata ada. Dan itu bisa kita lihat dalam surat Galatia, yang disampaikan Paulus saat mengingatkan jemaat tentang apa yang penting atau mempunyai makna mengenai keselamatan.
Saat itu ia menyinggung tentang banyaknya orang yang lebih bergantung kepada prosesi, tata cara atau ritual-ritual lengkap dengan perulangannya. Banyak orang keliru menganggap hal ini sebagai yang terpenting dalam beribadah dan mengira hal itu mampu membawa keselamatan, sementara kita lupa akan hal lain yang justru jauh lebih penting, berarti atau bermakna dalam menerima janji-janji Tuhan.
Maka perhatikan ayat berikut ini: "Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih." (Galatia 5:6).
(bersambung)
Tuesday, February 11, 2025
Kasih Sebagai Sumber Daya Iman (1)
Ayat bacaan: Galatia 5:6
==================
"...faith activated and energized and expressed and working through love." (English AMP)
Kebutuhan manusia akan perangkat komunikasi terus meningkat. Saat Alexander Graham Bell mematenkan telepon pertama saat masih berusia 29 tahun, dunia komunikasi manusia menjadi berubah. Berbagai penyempurnaan dan inovasi terus terjadi, hingga kemudian kita mengenal telepon yang tidak memerlukan kabel, bisa dibawa kemana-mana dalam genggaman.
Saya masih ingat saat telepon seluler atau handphone (hp) mulai menjamur di Indonesia di sekitar pertengahan dekade 90'an. Telepon seluler sebenarnya sudah ada sejak awal tahun 70an, dan kemudian mulai diperkenalkan di Indonesia sekitar 10 tahun kemudian. Tapi berbagai penyempurnaan dan berdirinya operator seluler membuat telepon seluler ini bisa eksis dan berkembang pesat dengan jumlah pemakai yang terus meningkat dengan cepat.
Dahulu di awal-awal layarnya tidak berwarna dan nada dering alias ringtonenya masih monophonic. Lantas layar mulai berwarna meski terbatas dan nada dering juga tidak lagi mono melainkan polyphonic. Karena pada masa itu telepon seluler hanya berfungsi untuk menelepon dan sms an, baterainya sangat awet. Standby time nya bisa tahan berhari-hari, yang artinya telepon seluler anda akan tetap aktif meski tidak di charge selama beberapa hari.
Metamorfosis dan revolusi telepon genggam terjadi begitu cepat. Hari ini sulit rasanya membayangkan bagaimana jadinya tanpa adanya smart phone dalam genggaman kita. Seperti namanya yang 'smart', kegunaannya jauh melebihi fungsi dasar sebagai alat menelepon dan teks. Beberapa aplikasi tetap stand by agar pesan yang masuk bisa segera kita terima. Fitur-fitur terus bertambah, dunia seolah ada dalam genggaman kita.
Karena kompleksitasnya, baterainya pun jauh lebih cepat habis dibanding telepon seluler jadul. Orang yang aktif memakai smart phone bisa jadi butuh men-charge ulang gadgetnya beberapa kali dalam sehari. Tidaklah heran jika di pusat-pusat perbelanjaan, cafe atau tempat hang-out/pusat keramaian menyediakan colokan listrik untuk menjaring konsumennya. Tempat hang-out yang tidak 'peka' terhadap kebutuhan terkini orang akan sulit bersaing.
Alternatifnya, kita pun wajib dilengkapi dengan power bank agar kita bisa kembali mengisi daya unit baterai saat mengalami lowbat kapanpun dan dimanapun. Pendek kata, di jaman yang serba elektronik dan elektrik ini kita sangat tergantung pada sumber daya agar semua gadget dan kebanyakan perangkat penting kita bisa tetap berfungsi.
Bagaimana dengan iman?
(bersambung)
Monday, February 10, 2025
Si Pencuri Sukacita (8)
(sambungan)
Karena itulah membereskan hal-hal yang masih mengganjal di masa lalu menjadi penting. Jika kita membereskan semua kesalahan kita, mengakuinya di hadapan Tuhan dan membereskan dengan orang-orang yang berkaitan dengan itu, memberikan pengampunan bagi mereka yang pernah menyakiti kita, iblis tidak akan bisa mendakwa kita, ia tidak akan bisa lagi memperdaya kita.. Kita bisa membangun kembali hubungan kita dengan Tuhan, dan dengan demikian sukacita daripadaNya tidak akan tersumbat melainkan bisa mengalir lancar ke dalam hati kita.
Jangan dasarkan sukacita kita kepada orang atau situasi terkini yang kita hadapi, tetapi dasarkanlah kepada Tuhan. Pandanglah Tuhan dan bukan masalah atau orang-orang yang bermasalah. Itulah sumber sukacita yang sebenarnya, yang sejati. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersukacita, karena semua itu berasal dari Tuhan dan itu letaknya sangat jauh di atas segala permasalahan atau orang-orang yang mengecewakan kita.
Begitu banyak orang yang keliru meletakkan sukacitanya hingga Firman Tuhan pun mengingatkan hingga berulang dalam ayat yang sama. "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" (Filipi 4:4). Lalu dalam kesempatan lain: "Bersukacitalah senantiasa." (1 Tesalonika 5:16).
Percayalah bahwa kita punya Tuhan yang jauh lebih besar dari semua masalah. Tuhan yang penuh kasih telah memberikan kita sukacita sejati terlepas dari apapun keadaan kita hari ini dan siapapun yang kita hadapi saat ini. Oleh karenanya, jangan biarkan sukacita kita dirampas. Don't let fear, stress, worry, our mistakes in the past and whatever problems to steal our joy. Let's set our mind towards the real joy from the real Source.
"Bersukacitalah senantiasa.Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:16-18).
Jika anda ingin sukacita sejati yang tidak terguncang oleh apapun, dasarkanlah pada sumber yang benar. Saat ini, percaya atau tidak, saya pun tengah berhadapan dengan banyak masalah. Dan tulisan ini sekaligus mengingatkan saya untuk tidak membiarkan apapun mencuri sukacita dari diri saya. Bagi teman-teman yang juga tengah mengalami hal yang sama, mari kita sama-sama menolak apapun dan siapapun mencuri sukacita kita. Now, are you ready? let's rejoice together!
"Life is 10% what happens to you, 90% how you react to it" - Charles Swindoll
Sunday, February 9, 2025
Si Pencuri Sukacita (7)
(sambungan)
Iblis akan selalu siap, dan juga sigap, mencuri apa yang kita miliki dan bagian kita yang dijanjikan Tuhan. Ia akan melakukannya dengan segala cara, lewat apa saja yang bisa menjadi pintu masuknya. Biasanya itu akan berasal atau berawal dari kelemahan-kelemahan kita. Dan itu termasuk masa lalu kita yang belum kita bereskan.
Masa lalu saya boleh dibilang buruk. Berbagai dosa sudah pernah saya lakukan, mungkin tinggal menghilangkan nyawa orang lain dan obat-obatan terlarang saja yang belum. Karena ituah saat saya mengalami perjumpaan dengan Yesus lantas bertobat, yang saya lakukan pertama kali yang sebenarnya secara naluri (karena saya belum mengetahui apa-apa tentang Firman Tuhan pada waktu itu) adalah sesegera mungkin membereskan kesalahan-kesalahan saya di waktu lalu. Saya mendatangi mereka yang pernah sakit hati pada saya dan minta maaf, lalu sesegera mungkin juga dibaptis. Meninggalkan manusia lama dan menjadi manusia baru.
Saya waktu itu tidak tahu kenapa, tapi dalam hati saya tahu bahwa itu hal penting yang harus saya lakukan. Pemikiran saya sederhana saja: saya mau membuka lembaran baru dengan fresh, tanpa membawa segala yang lama di masa lalu. Saya ingin, begitu saya menjadi manusia baru saya sudah tidak lagi dibelenggu oleh apapun dari masa lalu saya. Sesimpel itu pikiran saya.
Dan hari ini, saya bersyukur naluri dan logika saya pada waktu itu mengarah kesana, dan saya juga percaya bahwa Roh Kudus pada waktu itu menuntun saya untuk melakukan step-step awal agar saya bisa memulai dengan baik dan benar.
Apa yang dilakukan iblis bukan hanya mencuri, tapi iblis pun siap membunuh dan membinasakan kita. Membunuh karakter kita, menggagalkan kita dari keselamatan dan menjerumuskan kita ke dalam kebinasaan. Salah satu caranya mencuri biasanya dengan menjadikan kita sebagai tertuduh. Menggunakan kesalahan kita di masa lalu untuk mendakwa kita agar kita tidak bisa maju.
(bersambung)
Saturday, February 8, 2025
Si Pencuri Sukacita (6)
(sambungan)
Mau tidak mau, suka tidak suka, rela tidak rela, kita harus selalu siap dengan masalah atau gangguan yang bisa datang sewaktu-waktu. Masalah bisa atau boleh saja hadir, orang-orang yang sulit ini bisa kapan saja hadir di depan hidung kita, tapi sukacita tidak boleh hilang karenanya. Mengapa? Karena sukacita sesungguhnya berasal dari Tuhan, bukan dari orang atau situasi di sekeliling kita.
Selain yang disebutkan Swindoll, satu hal lagi yang juga pantas menjadi perhatian kita adalah membereskan segala kesalahan dan masalah kita di masa lalu. Ini pun merupakan faktor yang saya anggap sangat penting, karena sesungguhnya hidup dengan hati yang tertuduh pun bisa merampas sukacita dari diri kita.
Lihatlah ayat berikut ini: "Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah" (1 Yohanes 3:21).
Seringkali perasaan tertuduh dan bersalah membuat kita ragu untuk mendekati Tuhan, dan akibatnya kita tidak lagi merasakan sebentuk sukacita yang berasal dariNya. Iblis sangat senang memperdaya kita dengan terus menuduh kita atas segala kesalahan di masa lalu. Bisa begitu intensnya tuduhan itu hingga kita lupa bahwa Tuhan sebenarnya sudah mengampuni kita ketika kita bertobat.
Yesus sudah mengingatkan kita: "Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10).
(bersambung)
Friday, February 7, 2025
Si Pencuri Sukacita (5)
(sambungan)
Mari kita lihat sejenak mengenai Daud. Daud adalah seorang raja dan tinggalnya di istana. Ia sepertinya tidak kurang suatu apapun. Tapi tetap saja ada banyak masalah yang menerpa hidup Daud, bahkan diantaranya adalah ancaman pembunuhan. Dari tulisannya, kita tahu bahwa Daud ternyata mampu untuk terus bersukacita dalam kondisi apapun.
Apa kuncinya yang membuat Daud bisa tetap bersukacita meski berbagai kondisi yang tidak kondusif tengah menderanya? Kunci itu adalah : "Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak.." (Mazmur 16:8-9a).
Masih dari kitab yang sama dikatakan: "Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya." (Mazmur 33:21).
Dari sini kita bisa melihat bahwa hati kita bersukacita bukan tergantung dari orang lain atau situasi yang kita hadapi, tapi tergantung dari sejauh mana kita percaya pada Tuhan dan mempercayakanNya sebagai sumber sukacita kita yang sejati. Kita tidak akan pernah bisa menghindari masalah selamanya, karena terkadang sebaik-baiknya kita melangkah, ada saja faktor-faktor eksternal yang bisa membawa kita masuk ke dalam pusaran kesukaran seperti kondisi yang terjadi saat ini misalnya, dimana seluruh dunia tengah mengalami fase sulit.
Kita pun tidak akan bisa menghindari persinggungan dengan orang lain. Akan ada saja dimana kita mau tidak mau harus bertemu dengan orang-orang bertipe nyolot, mengesalkan dan menyebalkan. Baik di kantor, di pekerjaan, di lingkungan tempat tinggal, atau dalam perkumpulan, persekutuan, komunitas, dan sebagainya, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Dengan dunia yang lebih dari satu, potensi kehilangan sukacita kita pun berlipat ganda.
(bersambung)
Thursday, February 6, 2025
Si Pencuri Sukacita (4)
(sambungan)
Manusia bisa mengecewakan, orang terdekat kita sekalipun pada suatu waktu bisa menyinggung perasaan kita lalu membuat kita terluka, merasa tidak dipeduli, dikhianati dan sebagainya. Apa yang terjadi di depan bisa begitu tidak pasti sehingga membuat kita kuatir. Berbagai bahaya, perbuatan-perbuatan jahat dan rasa sakit bisa setiap saat membuat kita takut.
Bayangkan kalau kita membiarkan ketiga hal ini terus menerus mengganggu hidup kita. Hidup bisa jadi tidak lagi ada hepi-hepinya, dan kalau dibiarkan, segala macam penyakit bisa memperpendek umur kita.
Tapi dengarlah. Tuhan tidak akan pernah mengecewakan kita. Selain yang dikatakan Paulus, Pemazmur juga berseru: "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:2).
Tidak hanya dikatakan sebagai tempat perlindungan dan kekuatan dan penolong dalam kesesakan, tapi juga sangat terbukti.
Seperti yang sudah sering saya sampaikan, sebuah sukacita yang sejati itu sesungguhnya berasal dari Tuhan. Bukan dari manusia, bukan pula tergantung dari situasi, kondisi atau keadaan yang tengah kita alami. Artinya, kita tidak harus menggantungkan kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidup kita kepada manusia lain di sekeliling kita, atau pada keadaan kita saat ini, melainkan menggantungkannya kepada Tuhan, Allah kita yang tidak akan pernah mengecewakan anak-anakNya.
Mari kita lihat sejenak mengenai Daud.
(bersambung)
Wednesday, February 5, 2025
Si Pencuri Sukacita (3)
(sambungan)
Menurut Swindoll, ketiga hal inilah yang seringkali menjadi terdakwa pencuri sukacita atau joy stealers.
Lantas apa yang harus kita lakukan untuk mengalahkan atau menundukkan ketiga hal ini?
Swindoll menganjurkan kita untuk mengimani keyakinan Paulus akan penyertaan Tuhan seperti yang disebukan dalam kitab Filipi.
Bunyi ayatnya adalah sebagai berikut: "Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. " (Filipi 1:6).
Maksudnya bagaimana? Maksudnya adalah, kalau kita tahu sepenuhnya seperti Paulus, bahwa Tuhan yang sudah memulai sesuatu yang baik bagi kita akan meneruskan sampai pada akhirnya, kita seharusnya tidak perlu kehilangan sukacita.
Kita hari ini hidup di dunia yang sedang dalam keadaan sulit. Sudah sulit, kita bertemu dengan orang-orang yang siap membuat kita kehilangan kesabaran dan membuat situasi yang sudah buruk bertambah parah. Bukankah itu kita temui hampir setiap saat? Dan kita pun sebagai manusia sangat terbatas daya tahan dan sabarnya.
Kalau kita terus berpusat pada hal-hal seperti ini, rasa cemas, stres dan takut akan dengan mudah merampas sukacita dari diri kita setiap saat.
(bersambung)
Tuesday, February 4, 2025
Si Pencuri Sukacita (2)
(sambungan)
Saya pun pernah mengalami itu, dan bisa saja mengalami hal itu lagi dan lagi kelak di kemudian hari. Apalagi dengan tekanan hidup seperti sekarang, potensi untuk kehilangan sukacita menjadi sesuatu yang benar-benar harus saya perhatikan lebih dari sebelumnya. Jangan sampai kehilangan sukacita itu membuat saya jadi kehilangan keceriaan dan mudah marah, karena itu tentu akan membuat semua orang di sekitar saya menjadi tidak nyaman, terutama anak dan istri saya. Agar itu jangan sampai kembali lagi, hanya satu hal yang harus saya pastikan. Dan itu adalah jangan sampai saya kehilangan sukacita.
Kenapa sukacita itu bisa hilang? Kalau dikatakan hilang, itu berarti bisa jadi ada pencurinya, begitu?
Nah, pembahasannya jadi menarik karena seorang penulis bernama Charles Swindoll pernah mengangkat tema ini dalam bukunya.
Dalam buku itu Charles Swindoll menyebutkan bahwa ada tiga hal yang paling sering menjadi terdakwa sebagai pencuri sukacita, yaitu:
-worry (cemas)
- stress (stres)
- fear (takut)
Charles Swindoll mendefinisikan worry atau cemas sebagai "an inordinate anxiety about something that may or may not occur", yang kalau diterjemahkan menjadi kecemasan berlebihan terhadap sesuatu yang mungkin bisa atau mungkin tidak terjadi. Mungkin terjadi, mungkin juga tidak, tapi kestabilan pikiran dan mental kita sudah keburu terganggu olehnya.
Lalu Stress is "intense strain over a situation we can't change or control" alias ketegangan yang intens terhadap sebuah situasi yang tidak bisa kita ubah atau kendalikan.
Dan terakhir Fear: "a dreadful uneasiness over danger, evil or pain", yaitu sebuah rasa gentar yang sangat tidak nyaman terhadap bahaya, perbuatan keji atau rasa sakit.
(bersambung)
Monday, February 3, 2025
Si Pencuri Sukacita (1)
Ayat bacaan: Yohanes 10:10
======================
"Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan."
Masalah baterai handphone saja bisa bikin kesal. Mula-mula baterainya melemah, sehingga cepat sekali ngedrop, dan setelah dibiarkan, lama-lama baterai ini semakin parah baik kondisinya maupun bikin kesalnya. Gara-gara baterai lemah, handphone jadi suka restart sendiri secara mendadak. Awalnya sesekali, tapi semakin lama frekuensinya makin sering. Kalau tadinya terjadi saat sedang tidak terkoneksi kepada kabel charging, belakangan sedang dicharge pun dia bisa bolak balik restart.
Karena masih belum ada dana untuk mengganti baterai yang lumayan mahal harganya, saya pun bersabar saja dengan kondisi itu. Eh, semakin dibiarkan semakin menjadi. Kalau tadinya saat dia restart baterainya tetap ada di bar atas, sekarang begitu nyala lagi baterainya bisa ngedrop tinggal 1%. Dan, menyusul si baterai mulai menggembung. Nah kalau sudah pada kondisi ini, mau tidak mau, sanggup tidak sanggup saya harus segera mengganti baterai. Karena kalau dibiarkan, baterai yang menggembung itu bisa menyebabkan munculnya masalah-masalah lain yang lebih mahal seperti touch screen dan IC. Biayanya bisa berlipat kali lebih mahal jika itu terjadi.
Saat saya menunggu proses penggantian baterai di gerai reparasi handphone, saya pun kepikiran bahwa masalah baterai handphone saja bisa bikin kesal setengah mati, dan tanpa disadari bisa mencuri sukacita dalam hidup. Selain itu, seringkali sukacita kita pun bisa seperti baterai ini. Dari full of joy, tiba-tiba bisa ngedrop dengan datangnya gangguan dalam hidup kita. Lagi senang-senang, tiba-tiba muncul masalah yang kemudian membuat sukacita kita draining mendadak. Saya rasa semua kita pernah mengalami hal itu.
Lucunya, seperti baterai ini, level kecepatan kita kehilangan sukacita pun mirip-mirip. Mungkin di awal-awal sukacita kita tidak terlalu cepat hilang, suasana hati kita mungkin sedikit berubah dari happy menjadi kesal tapi tidak parah-parah amat alias tidak terlalu drastis. Tapi kalau dibiarkan, ngedropnya akan menjadi terus semakin cepat. Dan untuk mengembalikan sukacita itu seringkali butuh waktu yang terus bertambah semakin lama. Sudah naiknya lama, ngedropnya cepat pula.
(bersambung)
Sunday, February 2, 2025
Siap Tidak Siap (7)
(sambungan)
Sekali lagi, bukan perkara siap atau tidak siap, tapi apakah kita bersedia atau tidak. Kenapa? Karena kalau mau memikirkan dari sudut kesiapan kita sebagai manusia yang lemah, kita tidak akan pernah siap. Tapi jika kita bersedia, setidak siap apapun Tuhan yang akan siapkan.
Saya sudah beberapa kali berhadapan dengan situasi seperti ini, dan itulah yang menjadi kesimpulan saya. I have to be ready every time, even at the most 'not ready' time. And I have to be willing to do that no matter what. Seperti pengalaman saya yang saya bagikan di awal, mungkin kesaksian saya tidak sampai membawa pertobatan, tapi setidaknya saya sudah melakukan tugas dan kewajiban saya. Saya tidak memilih untuk menghindar, saya tidak memilih untuk menyangkal Kristus, saya tidak memilih untuk mengelak. Saya memilih untuk menjadi duta Kerajaan untuk menyampaikan kebenaranNya.
Mari kita perhatikan orang-orang disekeliling kita hari ini. Adakah yang membutuhkan penghiburan dan siraman Firman Tuhan? Apakah kita bersedia menyampaikan pada mereka betapa Tuhan mengasihi mereka? Apakah kita mau berperan aktif dan nyata sebagai duta Kristus atau kita masih terus mengelak dengan berbagai alasan? Kalau masih, mau sampai kapan kita berlaku seperti itu?
Kalau mau dibilang sulit atau situasinya tidak pas, atau mungkin pula bisa mendatangkan ancaman atau bahaya, siapa bilang menjadi duta Kristus itu kerjaan gampang tanpa resiko? Tapi coba pikir, bukankah merupakan sebuah kehormatan apabila kita bisa menjadi duta Kristus dalam kehidupan kita?
Semoga bisa menjadi bahan perenungan bagi kita semua.Tetaplah siap sedia untuk memberitakan Firman, meski waktunya baik ataupun tidak.
Preach the Word, be prepared in season and out of season
Saturday, February 1, 2025
Siap Tidak Siap (6)
(sambungan)
Di pundak kita semua pesan yang sama ini telah disematkan. Baik atau tidak baik waktunya, kita harus selalu siap sedia menyampaikan kebenaran firman Tuhan, membimbing, mengingatkan dan mengajar orang akan keselamatan.
Ketika kita memikirkan betapa sulitnya atau mungkin berbahayanya menjadi duta Kerajaan Allah untuk menyampaikan berita keselamatan, kita bisa belajar dari keteladanan yang ditunjukkan oleh Paulus dan Silas ini.
Caranya pun bisa seribu satu macam. Mungkin kita tidak bisa berkotbah, tapi mungkin kita bisa menulis. Jika tidak bisa menulis, kita bisa bersaksi tentang hal-hal yang sederhana, dan sebagainya. Sekedar menyampaikan kesaksian bagaimana sukacitanya hidup yang selalu berada dalam lindungan Tuhan pun bisa menjadi berkat buat banyak orang. Bahkan seharusnya terang Kristus bisa tercermin dari cara hidup kita, Tingkah laku, perkataan, perbuatan dan gaya hidup kita, itupun bisa menjadi cara tersendiri untuk memperkenalkan Kristus kepada orang lain.
Apa yang menjadi tugas kita adalah kita harus senantiasa siap sedia untuk menyampaikan Firman Tuhan, dan biarkanlah Firman itu kemudian berjalan sendiri dengan kuasaNya untuk menjangkau jiwa-jiwa. Jadi apa yang menjadi tugas kita hanyalah mewartakan berita keselamatan, bersaksi, selanjutnya biar Roh Kudus yang bekerja melembutkan jiwa-jiwa mereka.
Tuhan berkata: "Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya." (Yesaya 55:10-11).
(bersambung)
Friday, January 31, 2025
Siap Tidak Siap (5)
(sambungan)
Kita mungkin akan meratap kesakitan dengan luka cambuk di punggung dan bagian tubuh lain, menggigil kedinginan atau gemetar ketakutan kalau-kalau kita kemudian dibunuh. Tetapi perhatikan apa yang dilakukan Paulus dan Silas pada waktu itu. "Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka." (Kisah Para Rasul 16:25).
Yang terjadi selanjutnya sungguh ajaib. Sebuah gempa hebat terjadi, dan mereka pun lepas dari belenggu. Mukjizat malam itu tidak berhenti sampai disitu saja, karena kemudian kita mengetahui terjadi pertobatan kepala penjara dan seisi rumahnya. Si kepala penjara bertanya apa yang harus ia perbuat agar selamat.
"Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu." (ay 31). Paulus dan Silas pun kemudian menyampaikan firman Tuhan kepada seluruh keluarga kepala penjara. "Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya." (ay 32), dan memberi diri mereka dibaptis. (ay 33).
Dari kisah ini kita bisa melihat bagaimana firman Tuhan itu sanggup menyelamatkan dan memerdekakan. Waktunya sangat tidak baik, tapi Paulus dan Silas ternyata siap setiap saat, meski dalam keadaan seperti itu.
Bukan saja mereka dibebaskan, tapi ada pertobatan dari kepala penjara dan keluarganya.
Seandainya Paulus dan Silas tidak melakukan itu, mungkin pertobatan dari kepala penjara beserta keluarga tidak terjadi. Mereka akan tetap terpasung dan entah apa yang akan terjadi atas mereka setelahnya.
(bersambung)
Siap Tidak Siap (4)
(sambungan)
Mengacu kepada pesan ini, kita bisa melihat bahwa tugas untuk menyampaikan firman itu bukanlah hanya di saat kita punya waktu saja, atau ketika memungkinkan, tetapi harus senantiasa mengikuti hidup kita. Baik atau tidak baik waktunya, kita harus selalu siap sedia.
Dan pesan ini penting adanya, karena sesaat sebelum Tuhan Yesus naik ke Surga, Dia pun menyampaikan sebuah Amanat Agung yang wajib dilaksanakan oleh semua orang yang beriman kepadaNya. "Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:18-20).
Lihatlah bahwa kita tidak melakukannya sendirian, tetapi ada penyertaan Tuhan yang memampukan kita untuk melakukan itu. Kembali kepada 2 Timotius 4:2, perhatikan pula bahwa Tuhan bilang kita harus siap sedia. Itu artinya kesempatan dan orang-orang untuk kita tuntun bisa datang kapan saja, dan itu Tuhan yang bukakan. Karena dari Tuhan dan waktunya bisa kapan saja, kita harus siap sedia. Bukan bisa atau tidak, tapi bersedia atau tidak, itulah yang menjadi kuncinya.
Sebuah contoh menyampaikan firman Tuhan pada saat yang bagi kita dianggap sebuah waktu yang sungguh tidak tepat bisa kita lihat lewat kisah Paulus dan Silas. Mari kita lihat lagi dalam Kisah Para Rasul 16, yaitu ketika Paulus dan Silas dipenjara setelah mengalami siksaan menyakitkan sebelum mereka ditangkap.
Dalam keadaan kesakitan, mereka dipasung dan diletakkan dalam ruang penjara terdalam. Bukankah itu adalah saat yang sangat tidak baik untuk mewartakan Firman Tuhan?
(bersambung)
Thursday, January 30, 2025
Siap Tidak Siap (3)
(sambungan)
Dan mereka pun diam. Suasana pelan-pelan berubah menjadi lebih ringan, jatuhnya seperti ngobrol santai. Dan luar biasanya, setelah kami ngobrol selama lebih sejam, ia pun berkata bahwa saya tidak akan diganggu untuk menjalankan persekutuan. Itu jauh lebih baik dibanding tidak beragama sama sekali, katanya. Dan satu hal lagi, hubungan saya dan beliau justru menjadi jauh lebih baik setelahnya, sampai sekarang.
Apakah saya siap pada waktu itu dicecar oleh mereka? Saya rasa tidak akan pernah ada yang siap dalam situasi dadakan seperti itu. Apakah saya takut? It depends. Mungkin saja ada rasa gentar atau minimal tidak nyaman dihadapkan tiba-tiba pada situasi seperti itu.Tapi sebelum saya berpikir apakah saya takut atau tidak, saya langsung berdoa agar Tuhan ambil alih perkataan saya. That's what I did, dan saya yakin Tuhan punya rencana atas apa yang terjadi pada pagi itu.
Dari pengalaman itu saya menyadari bahwa menyampaikan kesaksian tentang hal-hal yang kita alami langsung pun bisa sangat efektif untuk menceritakan kebenaran. Kalau kita tidak siap, kita tidak akan bisa merespon saat Tuhan membawa jiwa datang pada kita, atau saat kita diperhadapkan ke dalam situasi seperti pengalaman saya di atas.
Kesempatan untuk membawa jiwa menuju pertobatan pun akan terlewatkan sia-sia, kesempatan untuk menyampaikan kebenaran Firman pun bisa terbuang sia-sia.
Berkenaan dengan hal ini, ada sebuah pesan dari Paulus yang amat penting. "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran." (2 Timotius 4:2).
(bersambung)
Wednesday, January 29, 2025
Siap Tidak Siap (2)
(sambungan)
Bagaimana dalam hal menjalankan tugas mulia mewartakan berita mengenai Yesus? Seringkali kita punya ribuan alasan untuk menolak memberitakan kabar gembira kepada orang. Segala keterbatasan pun akan mudah kita berikan. Takut, tidak tahu caranya, tidak mengerti terlalu banyak, tidak pintar ngomong, sudah terlalu sibuk dan lain-lain, termasuk alasan waktunya kurang tepat, sedang tidak pas. Atau alasan takut, itu pun sering jadi penyebab untuk menolak. Padahal seringkali bukan waktunya yang tidak pas, tapi kitanya lah yang tidak siap.
Mari saya berikan satu contoh nyata dari pengalaman saya sendiri. Suatu pagi, saya berhadapan dengan seorang bapak yang tinggal tidak jauh dari rumah saya. Ia adalah ketua dari sebuah ormas garis keras yang kalau saya sebut namanya pasti anda tahu. Ia tahu keyakinan saya, dan entah dari mana ia tahu bahwa apa keyakinan lama saya.
Maka jadilah pagi itu saya seolah ia 'sidang' bersama salah seorang temannya. "Kenapa anda murtad?" pertanyaannya tajam dan air mukanya pun terlihat tidak menyenangkan.
Saya bisa saja ngeles atau berdalih untuk cari aman. Tapi tidak, saya tidak mau menyangkal Yesus yang sudah saya terima sebagai Tuhan dan Juru Selamat saya. Maka saya berdoa dalam hati, meminta Roh Kudus membimbing mulut dan lidah saya dalam menjawab.
Yang saya lakukan kemudian adalah saya bersaksi, sejujur-jujurnya kenapa saya berpindah. Saya juga bersaksi bagaimana perubahan dalam hidup saya setelah saya menerima Yesus.
Lantas berbagai pertanyaan 'klise' tentang Kristen pun mereka sampaikan pada saya, sesuatu yang biasa mereka pakai untuk mengolok-olok. Saya hanya menjawab bahwa yang namanya iman, itu tidak bisa tergantung dari orang lain melainkan dari diri sendiri. Ada banyak hal yang tidak akan pernah bisa kita jawab karena kemampuan manusia untuk menyelami kebesaran Tuhan itu sangatlah terbatas. Disaat seperti itu, iman akan sangat bermanfaat agar kita bisa meyakini betul kebesaran Tuhan, juga agar kita bisa mengalami banyak hal yang berada di luar kemampuan nalar manusia.
(bersambung)
Tuesday, January 28, 2025
Siap Tidak Siap (1)
Ayat bacaan: 2 Timotius 4:2
========================
"Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran."
Ada banyak faktor yang bisa menentukan sukses tidaknya sebuah band atau artis di panggung hiburan. Benar, ada faktor-faktor 'x' yang bisa membuka jalan pintas bagi mereka untuk tenar, tapi faktor kesiapan pun sebenarnya berperan sangat penting dalam karir seseorang.
Anggaplah ada seorang pendatang baru yang punya talenta dan konsep unik yang bisa membuatnya sukses. Itu jelas merupakan modal besar. Tapi sayangnya ia ternyata tidak siap untuk terus menapak dalam jangka waktu yang cukup panjang. Yang terjadi, bak komet dia bisa cepat melesat tapi cepat pula meredup, alias gone to soon.
Dan saya melihat banyak sekali contoh nyata akan hal ini. Band atau musisi yang siap kapan saja saat ada yang minta main akan dapat job lebih banyak dibanding mereka yang kurang atau tidak siap. Tidak siap bagaimana? Misalnya jika mereka jarang latihan dan hanya latihan saat ada jadwal main. Ketika ada job dadakan dengan waktu mepet, mereka pun harus menolak karena tidak punya cukup waktu latihan. Ada yang sibuk kerja, mereka ini pun susah menyesuaikan jadwal.
Bagi mereka yang memegang komitmen untuk serius, ajakan main mendadak tidak akan menjadi masalah karena mereka siap. "Ready or not, siap atau tidak, kita ambil. Karena kita memang mau serius berprofesi disini", ujar seorang teman pada suatu kali. Kesiapan mereka, mau waktu persiapan santai atau mepet, waktunya baik atau tidak, itulah yang seringkali menjadi salah satu faktor penentu maju tidaknya karir mereka ke depan.
Bagaimana dalam hal menjalankan tugas mulia mewartakan berita mengenai Yesus?
(bersambung)
Monday, January 27, 2025
Duri (7)
(sambungan)
Jika kita mau merenungkan baik-baik, pada akhirnya kita akan mendapati bahwa tidak ada satupun hal yang lebih penting selain meluangkan waktu dalam doa dan bertumbuh dalam Firman bersama Tuhan. Resapi Firman itu dengan hati yang lembut agar Firman itu bisa menembus dan berakar di dalam diri kita.
Setelah itu kemudian kita mengaplikasikannya dalam setiap sendi kehidupan kita dan dari sana kita bisa menghasilkan buah-buah yang matang dari Firman-Firman yang terus bertumbuh di dalam diri kita.
Sangatlah penting bagi kita untuk mengawasi "duri-duri" kecil yang mampu menghambat atau bahkan menghentikan langkah kita. Ukurannya memang kecil, tapi akibat yang ditimbulkan bisa mematikan. Buat saya perumpamaan Yesus tentang benih yang tertabur di semak duri ini sangat luar biasa. Perumpamaannya mengambil contoh yang mudah untuk dicerna, tapi secara sangat baik bisa menyampaikan tentang sebuah pengajaran penting bagi kita semua.
Jangan biarkan semak duri itu mengganggu kita. Sekecil dan sesedikit apapun, tebang habis segera semua semak duri agar Firman itu jatuh di tempat yang baik, pastikan agar hati kita cukup lembut untuk bisa menerima Firman. Biarkan Firman itu berakar, bertunas, tumbuh dan pada akhirnya bia berbuah dengan subur.
Let your faith be bigger than your fears
Sunday, January 26, 2025
Duri (6)
(sambungan)
Adalah sangat baik jika kita sudah mampu menghindari kejahatan-kejahatan yang dianggap besar seperti membunuh, mencuri dan sebagainya. Tetapi jangan lupakan pula hal-hal yang terlihat kecil namun cukup punya kemampuan untuk membuat firman tidak bisa berbuah lalu membahayakan perjalanan hidup kita ke depan.
Lantas dimana seharusnya firman itu jatuh?
Ayat selanjutnya mengatakan: "Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat." (ay 20).
Jatuh di tanah yang subur dan gembur, itu akan membuat firman itu bisa berbuah puluhan bahkan ratusan kali lipat. Seperti itulah dikatakan firman yang jatuh pada kondisi hati yang baik.
Dalam surat Paulus kepada Timotius, ia mengingatkan: "Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya." (2 Timotius 2:4). Kita diminta untuk tidak memusingkan diri dengan soal-soal penghidupan, dan seharusnya lebih fokus untuk melakukan hal-hal yang akan membuat Tuhan berkenan atas kita.
(bersambung)
Saturday, January 25, 2025
Duri (5)
(sambungan)
Perhatikan bahwa disana dikatakan bahwa duri-duri ini bisa menyusup (creep in) lalu mencekik (choke) dan menghambat jalur pernafasan (suffocate) sehingga Firman itu pun tidak bisa berbuah.
Jika kita melihat apa saja yang dikatakan duri dalam ayat ini, maka kita akan mendapatkan bahwa secara umum duri-duri itu mewakili hal-hal yang sering kita beri toleransi karena kerap dianggap kecil dan tidak berbahaya, antara lain:
- Cares and anxieties of the world (kekuatiran dan kegelisahan dalam dunia)
- Distractions of the age (gangguan atau kebingungan dari zaman ini)
- The pleasure and delight (kesenangan dan kegembiraan)
- False glamour and deceitfulness of riches (kegemerlapan yang palsu dan tipu daya kekayaan)
- The craving and passionate desire for other things (kecanduan dan hasrat yang menggebu untuk hal-hal lainnya)
Lihatlah baik-baik poin-poin di atas. Bukankah semuanya merupakan sesuatu yang seringkali tidak kita awasi dengan baik dan terus menerus kita biarkan untuk hadir bahkan berkuasa dalam hidup kita? Inilah semak-semak duri itu, yang walaupun kecil tetapi sanggup menghimpit Firman sehingga tidak bisa berbuah.
Kata menghimpit ini dalam bahasa Inggrisnya Bukan saja dikatakan choke alias mencekik, tetapi juga "suffocate", yang artinya membunuh dengan cara menghambat akses masuknya udara/oksigen sehingga kita tidak bisa bernafas. Bayangkan seandainya wajah kita dibekap dengan plastik sehingga tidak bisa bernafas, seperti itulah potensi bahayanya.
(bersambung)
Friday, January 24, 2025
Duri (4)
(sambungan)
Selanjutnya Yesus bilang ada firman yang jatuh tertabur di semak duri. Inilah yang ingin saya jadikan titik fokus dari renungan kali ini.
"Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah." (ay 18-19).
Duri itu rata-rata kecil, dan banyak yang halus. Seperti itu pula berbagai hal-hal yang sepertinya kecil dan kita abaikan, tetapi nyatanya tetap berpotensi besar untuk menghancurkan kita. Seringkali kita awas terhadap kejahatan-kejahatan yang besar dan mudah untuk menghindarinya. Namun di sisi lain kita sering membiarkan atau memberi toleransi pada berbagai dosa-dosa kecil, yang mungkin tidak terlihat berbahaya, tetapi seperti halnya duri yang ukurannya relatif kecil namun tetap bisa melukai bahkan mencelakakan kita.
Mari kita lihat lebih jauh lagi ayat 19 ini dalam versi bahasa Inggrisnya. Dalam Bible versi English Amplified dikatakan sebagai berikut: "Then the cares and anxieties of the world and distractions of the age, and the pleasure and delight and false glamour and deceitfulness of riches, and the craving and passionate desire for other things creep in and choke and suffocate the Word, and it becomes fruitless."
First they creep in, then choke the Word, and the next thing you know, they suffocate it until the Word brings no fruit.
(bersambung)
Thursday, January 23, 2025
Duri (3)
(sambungan)
Kata Yesus:
"Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur." (ay 3). Benih yang ditabur itu kemudian jatuh di beberapa tempat berbeda. Ada yang jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung memakannya sampai habis. (ay 4).
Benih yang jatuh di pinggir jalan lalu dimakan burung menggambarkan orang yang mendengar firman tapi tidak menyimpannya dengan baik dalam hatinya. Mereka puas hanya dibagian luar saja, dan kemudian iblis pun datang mengambil firman yang ditaburkan pada mereka.
Lalu ada yang jatuh di tanah berbatu-batu, kata Yesus dalam ayat 5.
Benih yang jatuh di tanah berbatu tidak akan bisa diharapkan untuk tumbuh sehat. Saat akar dari sebuah tanaman tidak bisa menembus kerasnya lapisan batu, bisa dipastikan tanaman itu akan kerdil atau bahkan lama-kelamaan mati karena tidak bisa cukup dalam menembus tanah hingga menemukan air.
Seperti perumpamaannya, demikian pula orang yang menerima firman Tuhan tetapi hatinya keras bagai tanah penuh batu.
"Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad." (ay 16-17).
Firman yang jatuh di hati yang keras bagai tanah berbatu-batu akan sulit diharapkan bisa berakar, bertunas dan bertumbuh, apalagi berbuah. Firman di hati seperti ini bisa dengan segera menjadi sia-sia jika kondisi hati kita seperti itu.
(bersambung)
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...
-
Ayat bacaan: Ibrani 10:24-25 ====================== "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih ...